haNYa kaTA ” buaT BunDA. . .
sudah hampir 3 bulan saya meninggalkan kampung
halaman, meninggalkan semua yang pernah mendampingi saya dan berada di dekat
saya, saudara, sahabat, dan tentunya kenangan-kenangan yang dulu selalu
menyertai saya. tanpa saya sadari pula saya telah meninggalkan belaian dan
kasih sayang dari kedua orangtua saya. kasih sayang tanpa batas, tiada yang
bisa mengukur seberapa besar nilai yang terkandung dalam kasih dan sayangnya,
bagaikan matahari yang selalu memberi kehangatan kepada bumi. kehangatan yang
luas dan adil. kehangatan yang mampu menumbuhkan berbagai kehidupan beraneka
ragam atas izin Allah Dzat Maha Sempurna.
sudah 3 bulan pula saya selalu dikirim doa, doa
berajut cinta dengan ketulusan hati dari seorang Bunda…. doa yang tulus
yang ingin agar anaknya selalu sehat dan tegar dalam menatap realitanya dunia
luar.
terkadang saya ingin sekali mendengar suara bunda,
melihat bunda memasak, dan ingin berbagi cerita dengan bunda. menceritakan
tentang semua. saat saya sakit, saat saya mencoba menapak dengan kuat dengan
sisa tenaga, saat saya harus menahan dingin dan panasnya cuaca diluar, dan saat
merasakan kebahagiaan yang tiada terkira lewat rizki dari Dzat Maha
Sempurna.
Bunda. . . hari yang saya lewati semakin hari semakin
terasa lama, waktu seakan enggan memutar layaknya hari dimana saat dekat dengan
bunda., perubahan musim terasa sangat berat bagi
saya, kerinduan yang terjadi begitu kuat. bagi saya kerinduan itu telah penuh
sesak dalam hati saya, terkadang saya harus melepasnya bersama tetesan air
mata, karena saya harus berjuang melawan segala keriduan ini.
terkadang saya merasa iri dengan saudara dan saudari
saya dirumah, mereka sangat dekat dengan bunda, dan dengan mudahnya mereka
melepas rindu yang kadang tanpa mereka sadari betapa sangat susahnya bagi
seseorang yang jauh dari rumah hanya untuk sekedar melihat wajah bunda. tapi
ini adalah jalan hidup saya dan jalan pembentukan bagi pribadi saya sendiri.
yang telah Allah tulis jauh sebelum ada kehidupan ini. Allah Dzat Maha
Sempurna. . . telah menulis dengan sempurna untuk membuat saya lebih tegar dan
kuat, dengan jalan ini mungkin orang lain tidak akan mampu, Allah Dzat Maha
Adil. . . telah menulis dengan sangat adil memberi jalan kehidupan yang
berbeda bagi setiap insan manusia sesuai kadar kemampuan yang dimiliki. Maha
Besar Allah . . . . .
Bunda maafkan saya yang belum bisa berada di sisi
bunda, belum bisa berbagi cerita. . .
Bunda maafkan saya yang belum bisa berbakti kepada
bunda, walau hanya sekedar mengucap salam dan mencium tangan bunda. . .
Bunda maafkan saya yang hanya bisa menulis dengan
kata-kata untuk mengungkapkan kerinduan ini. . .
Bunda maafkan saya. . .
bunda… mungkin bahkan bisa dipastikan doa saya tidak
se-khusyuk doa bunda, tetes airmata saya tidak setulus air mata bunda,
tapi bunda jangan pernah berhenti berdoa, berdoa untuk saya. hanya doa bunda
yang mampu menjadi kenyataan.
” Ya Allah Dzat yang Maha Sempurna. . .
muliakanlah bunda saya, cintai beliau, tinggikan derajatnya,
mudahkan beliau dalam meniti jalan hanif di sisa hidup beliau. dan tempatkan
beliau di sisi engkau ya Allah bersama orang-orang sholehah. hanya Engkau ya
Allah tepat menghamba dan meminta dan tempat dikabulkannya segala permintaan.”
” meneteskan air mata untuk sedikit mengurangi
kerinduan dan menguatkan kesabaran hati “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar